Sosialisasi Online Seri ke-5: Hadapi Salinitas, Pertanian Pesisir Pantura Jateng Tetap Produktif
Pati, 30 Juni 2026 – Balai Perakitan dan Modernisasi Sumber Daya Lahan Pertanian (BRMP SDLP) bersama Balai Perakitan dan Pengujian Lingkungan Pertanian (BRMP Lingkungan) sukses menggelar Sosialisasi Online Seri ke-5 tahun 2026 bertajuk “Tantangan dan Peluang Budidaya Padi di Pesisir Pantai Utara Jawa Tengah”. Acara yang dibuka oleh Kepala BRMP Lingkungan, Lutfi Izhar, ini diikuti lebih dari 100 peserta dari berbagai instansi, peneliti, penyuluh, hingga petani. Fokus utama kegiatan ini menyoroti wilayah pesisir Pantura—mulai dari Brebes hingga Demak—yang merupakan lumbung padi nasional namun kini menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim.
Ancaman tersebut dipicu oleh kenaikan permukaan air laut yang tercatat lebih dari dua kali lipat lebih cepat dibandingkan abad ke-20, sehingga memicu intrusi air asin ke daratan. Narasumber, Rina Kartikawati, menjelaskan bahwa akumulasi garam di lahan sawah menyebabkan cekaman osmotik dan toksisitas ion yang merusak struktur tanah serta menghambat pertumbuhan tanaman. Dampaknya sangat nyata bagi petani, di mana produktivitas padi yang semula mencapai 4–5 ton per hektare kini merosot menjadi 3–4 ton per hektare, bahkan di wilayah bersalinitas tinggi berpotensi mengalami gagal panen.
Menjawab tantangan tersebut, dapat dilakukan dengan cara strategi pengelolaan lahan terpadu yang bertumpu pada tiga pilar utama. Pilar pertama adalah perbaikan kondisi tanah dan air melalui sistem drainase, pencucian garam (leaching), serta aplikasi amelioran seperti gipsum, biochar, dan bahan organik. Pilar kedua berupa pengelolaan budidaya cerdas melalui penyesuaian waktu tanam, irigasi presisi, dan rotasi tanaman dengan palawija, yang kemudian dipadukan dengan pilar ketiga, yaitu penggunaan varietas padi unggul yang secara genetik toleran terhadap salinitas.
Sebagai langkah adaptasi yang konkret, Rina merekomendasikan penggunaan beberapa varietas padi unggul yang telah melalui seleksi ketat untuk lahan pesisir. Varietas yang direkomendasikan meliputi Inpari 34, Inpari 35, Unsoed 79, Biosalin 1, Biosalin 2, serta Agritan. Keunggulan varietas-varietas ini terletak pada ketahanan genetiknya terhadap toksisitas garam, sehingga mampu mempertahankan produktivitas dan mencegah penurunan tinggi tanaman, jumlah anakan, maupun fertilitas malai di tengah kondisi lahan yang ekstrem.
Antusiasme peserta terlihat jelas pada sesi diskusi yang dipandu oleh Ika Ferry Yunianti, berbagai pertanyaan teknis dan strategis dilontarkan secara interaktif. Melalui sosialisasi ini, diharapkan para praktisi di lapangan dapat mengimplementasikan teknologi dan varietas yang tepat untuk memastikan bahwa lahan pesisir Pantura yang rentan terhadap dampak perubahan iklim tetap dapat berproduksi secara berkelanjutan demi mengawal ketahanan pangan nasional.